Tahukah Kamu, Produksi Garam Industri Menggunakan Proses Pengendapan Alami

Sejauh ini, produksi garam industri di Indonesia masih menggunakan proses pengendapan secara alami. Hal tersebut tentunya didasarkan atas beberapa pertimbangan, baik itu mengenai kualitas produk yang dihasilkan ataupun tingkat keamanan proses produksinya.

Proses pengendapan alami dalam pembuatan garam juga kerap disebut sebagai proses pengendapan tradisional yang bebas akan efek samping berbahaya atau resiko akan paparan zat-zat berbahaya dari pihak luar.

Faktor yang Berpengaruh dalam Proses Produksi Garam Alami

Berikut ialah beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses produksi garam alami:

  1. Air Laut

Faktor pertama yang paling berpengaruh dalam pengendapan garam ialah kualitas air laut. Dengan begitu, tidak semua air laut di daerah pantai bisa diendapkan menjadi garam. Dalam hal ini, tingkat keasaman atau kadar pH air laut sangatlah berpengaruh.
Jika suatu daerah pantai lokasinya berdekatan dengan muara sungai, maka besar kemungkinan air laut telah tercampur dengan air tawar sehingga kadar garam yang ada di dalamnya telah berkurang.

  1. Cuaca

Selain air laut, perubahan cuaca seperti suhu, angin, curah hujan dan musim kemarau juga memberikan pengaruh terhadap proses pengendapan garam.

  • Angin dan Suhu

Jika angin bertiup semakin kencang, maka proses penguapan air laut akan bergerak lebih cepat. Sama halnya jika udara cukup panas, maka proses penguapan juga akan lebih cepat dibandingkan ketika cuaca dan suhu dingin.

  • Curah Hujan

Curah hujan menjadi salah satu indikator yang berpengaruh terhadap proses pengendapan garam. Hal ini dikarenakan ketika curah hujan tinggi, maka proses penguapan kurang maksimal yang berakibat pada menurunnya produksi garam.

  • Musim Kemarau

Semakin panjang musim kemarau yang terjadi di setiap tahunnya memberikan pengaruh terhadap peningkatan proses penguapan yang mengakibatkan meningkatnya produktivitas garam.

  1. Tanah

Sifat porositas atau kemampuan tanah untuk menyerap air juga termasuk dalam faktor yang mempengaruhi pengendapan garam.

Jika tanah memiliki sifat porositas yang tinggi, maka proses pembuatan garam tidak maksimal karena banyak air laut yang terserap ke dalam tanah.

Cara Produksi Garam dengan Pengendapan Alami

Cara pembuatan garam secara tradisional atau mengandalkan pengendapan alami kerap kali digunakan dengan bantuan alat-alat yang tergolong cukup sederhana. Unsur penting yang dibutuhkan dalam hal ini ialah lahan yang luas sebagai media untuk mengendapkan air laut.

Kebanyakan industri garam di Indonesia masih mengandalkan cara ini dalam proses produksinya. Disamping ramah lingkungan, cara ini juga minim akan resiko terhadap paparan zat-zat berbahaya.

Berikut ialah beberapa tahapan dalam proses produksi garam dengan cara pengendapan alami.

  1. Mengalirkan Air Laut ke Lahan yang Luas

Tempat pengendapan air laut dalam proses pembuatan garam yaitu sepetak tanah yang telah dipersiapkan khusus. Lahan tersebut dibuat dengan tujuan untuk menampung air laut yang nantinya akan diuapkan di bawah sinar matahari.

Berikut ialah langkah-langkah yang bisa dilakukan:

  • Memasukkan air laut ke dalam media penguapan, hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti misalnya menggunakan timba dan jirigen secara bertahap. Selain itu, Anda bisa juga memanfaatkan pasang surut air laut untuk memasukkannya
  • Jika menggunakan pasang surut air laut, maka Anda harus memposisikan tanah atau media penguapan dalam posisi yang tidak lebih tinggi dibandingkan air laut. Pastikan dalam kondisi tersebut nantinya air laut bisa masuk ketika pasang.
  • Ketika air laut mulai pasang yakni biasanya pada sore menjelang malam hari, maka Anda bisa membuka penutup kolam agar air bisa masuk. Selanjutnya ketika air surut, maka tutup kembali pembatas tersebut agar air laut tidak pergi.
  1. Menjemur di Bawah Terik Matahari

Langkah selanjutnya setelah air laut terkumpul di dalam kolam ialah menjemurnya di bawah matahari. Proses ini dilakukan agar air laut mengalami penguapan dan menyisakan butiran-butiran kristal yang nantinya akan diolah menjadi garam.

  1. Proses Pemanenan

Setelah proses penguapan selesai, maka garam akan dipanen dan diolah kembali menjadi garam dengan berbagai bentuk dan kandungan yodium yang berbeda-beda.

Itulah ke-3 langkah yang dilakukan oleh kebanyakan industri garam yang masih mengandalkan penguapan secara alami atau manual.

Namun, selain cara di atas, terdapat pula teknik pembuatan garam lainnya yang biasa digunakan industri sebagai alternatif lain dalam produksi.

Cara Produksi Garam dengan Memanfaatkan Teknologi Ulir Filter

Selain cara pengendapan secara alami atau manual, terdapat pula cara pembuatan garam dengan teknologi ulir filter yang biasa digunakan oleh kebanyakan industri garam sebagai alternatif lain dalam proses produksinya.

Cara pembuatan garam dengan teknik ini dinilai akan menghasilkan garam dengan kualitas tinggi atau kandungan garam di dalamnya masih tersisa 90%. Dengan kata lain, cara ini tidak banyak menghilangkan unsur dan kandungan garam.

Fokus utama dalam menghasilkan garam menggunakan teknologi ulir filter ialah memasang filter pada saluran kolam dan memasang terpal hitam pada meja hablur. Adapun urutan langkah dalam proses pembuatannya ialah sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan lahan dengan cara menguras kolam terlebih dahulu, baik itu kolam penampungan utama, kolam petak ulir besar dan kecil, kolam penampungan kedua ataupun meja hablur.
  2. Langkah selanjutnya yakni mengalirkan air laut murni dengan densitas 0-1 derajat Be ke dalam kolam penampungan yang pertama. Setelah selesai, tunggu beberapa saat sampai densitasnya naik menjadi 3 derajat Be.
  3. Setelah itu, alirkan air laut ke dalam kolam penampungan kedua menggunakan petak ulir besar. Proses ini bertujuan untuk menciptakan penguapan yang maksimal dan hasil yang lebih banyak.
    Selain itu, panjangnya lintasan air yang digunakan dalam cara ini juga diharapkan bisa menjadi media penyaring atau filter agar air yang diuapkan menjadi lebih bersih.
  4. Ketika seluruh air telah terkumpul dalam kolam penampungan kedua, maka aturlah sedemikian rupa sampai tinggi permukaan air mencapai 3-5 cm. Setelah itu, ukur kembali densitasnya dan tunggu sampai beberapa saat agar mencapai kurang lebih 12 derajat Be.
  5. Proses berikutnya yakni mengalirkan kembali air ke kolam penampungan ketiga menggunakan petak ulir kecil. Pada umumnya, media pengaliran ini memakan lahan yang cukup panjang karena dimaksudkan untuk menciptakan kekentalan sekitar 20 derajat Be.
  6. Dari kolam penampungan ketiga, air diharapkan telah mencapai kadar densitas sebesar 20-25 derajat Be. Setelah mencapai kondisi tersebut air siap dipindahkan ke meja garam untuk melanjutkan proses penguapan secara maksimal.

Dalam ke-6 proses tersebut, rata-rata waktu yang dibutuhkan ialah sekitar 14-15 hari. Cukup singkat bukan? Itu sebabnya, produksi garam dengan cara ini dinilai lebih efektif dan tidak memakan banyak waktu.

Selain itu, proses penguapan dengan bantuan ulir filter ini juga akan menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih tinggi sehingga bisa diolah menjadi garam berkualitas dengan kadar yodium yang memadai.

Meski menggunakan bantuan teknologi ulir, cara tersebut tetap tergolong sebagai cara menghasilkan garam secara alami dengan memanfaatkan panas matahari secara langsung atau tidak menggunakan bantuan penguapan mesin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan FREE Sample untuk pembelian pertama. Hubungi kami disini

X