harga-garam-lokal

Inilah Alasan Kenapa Garam Lokal Lebih Murah

Indonesia termasuk salah satu negara yang bisa memproduksi banyak garam mengingat besarnya potensi sumber daya alam pendukung di dalamnya.

Sayangnya, harga garam lokal di pasaran ternyata lebih murah dibandingkan impor. Tentu saja kondisi ini disebabkan berbagai alasan yang wajib diketahui sebagai perbaikan.

Alasan Harga Garam Lokal Lebih Murah

Harga garam produksi Indonesia tergolong murah di pasaran sehingga sebagian besar petani garam merasa dirugikan. Sebagai bahan perbaikan di masa mendatang, ada beberapa alasan yang menyebabkan murahnya harga garam lokal ini, di antaranya:

1. Kualitas Garam Lokal Belum Semua Memenuhi Standar

Jika melihat kualitas petani dan teknologi yang digunakan, beberapa supplier garam di Indonesia masih mengolah garam lokal secara sederhana dan belum memenuhi standar. Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi kualitas garam yang dihasilkan.
Untuk meningkatkan harganya, maka proses pengolahan ini bisa didukung dengan teknologi mumpuni dan kualitas sumber daya manusianya. Dengan begitu, garam yang dihasilkan bisa memenuhi standar.
Meski begitu, beberapa produsen garam di Indonesia sudah mampu menghasilkan garam berkualitas. Hanya saja belum merata ke seluruh produsen garam yang ada dan jumlahnya masih sangat terbatas.

2. Kalah Saing dengan Garam Impor

Beberapa negara produsen garam seperti Australia sudah menggunakan teknologi yang terbilang canggih untuk menghasilkan garam sesuai standar. Bahkan penggunaanya sudah merata ke semua wilayah dan telah di ekspor ke berbagai negara termasuk Indonesia.

Dengan kualitasnya yang lebih baik, konsumen dari Indonesia akhirnya lebih menyukai garam impor dibandingkan garam produksi sendiri dan membuat harga garam lokal semakin anjlok.

3. Proses Produksi Garam Lambat

Masa produksi garam di Indonesia hanya sekitar 4 sampai 5 bulan. Waktu ini tergolong sangat singkat dibandingkan produsen garam dari negara lainnya yang mencapai 11 bulan.

Proses produksi yang cepat dan masa produksinya yang lama sangat memungkinkan garam bisa di ekspor dalam jumlah yang besar ke berbagai negara.

Apabila Indonesia tetap memproduksi dalam waktu yang lambat dengan masa singkat, tentu saja harganya akan sangat sulit dinaikkan dan kalah saing dengan garam impor. Ini disebabkan karena masa cost produksi garam semakin rendah jika produksi garamnya semakin besar. Demikian sebaliknya.

4. Lahan Produksi Garam Terbatas

Dari segi kondisi geografisnya, pada dasarnya lahan produksi garam di Indonesia sangat banyak, apalagi lautannya juga sangat luas. Tapi karena teknologi yang kurang canggih, maka beberapa lautan di Indonesia yang tidak mengandung kadar NaCl tinggi tidak bisa dijadikan lahan produksi garam.

Padahal, walaupun kadar NaCl rendah, teknologi bisa membantu kadarnya tinggi dan bisa dijadikan area produksi garam. Namun karena sebagian besar pengolahan garam di Indonesia masih menggunakan metode tradisional, jadi lahan produksinya hanya terbatas pada lautan yang kadar garamnya tinggi saja.

Lahan produksi garam sendiri juga harus dibuat dengan perizinan resmi dengan banyak syarat, salah satunya terkait kadar garam. Kalau syarat ini tidak terpenuhi, tentu lahan produksi garam tidak bisa dibuat.

5. Aktivitas Impor Barang Berlebihan

Kualitas garam impor yang baik dengan harga yang terjangkau membuat tingginya permintaan garam impor oleh masyarakat Indonesia. Akibatnya, aktivitas impor barang terus dilakukan hanya untuk kepentingan berbagai pihak saja.

Bahkan hanya untuk kebutuhan garam kurang dari 3 ton, Indonesia melakukan impor garam dari luar negeri walaupun sebenarnya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan garam tersebut tanpa harus impor.

Aktivitas impor yang berlebihan dan seharusnya tidak dilakukan inilah yang menjadi salah satu faktor lain mengapa harga garam lokal jadi semakin murah. Untuk mengatasi kondisi ini, maka pembatasan impor perlu dilakukan secara ketat agar masyarakat Indonesia mau membeli garam lokal dan harga bisa dinaikkan.

6. Belum Ada Dukungan Teknologi Produksi Garam

Kalau ingin menaikkan harga garam, dukungan teknologi seharusnya juga dilakukan oleh berbagai pihak yang terkait. Indonesia harus berani menggunakan teknologi canggih dalam proses pengolahan garam oleh petani lokal.

Tentu saja dukungan teknologi ini juga harus diimbangi dengan meningkatkan wawasan para petani garam dalam menggunakan teknologi tersebut secara lebih efisien. Sayangnya sampai saat ini dukungan teknologi untuk produksi garam belum ditemukan dan sebagian besar memproduksi dengan cara manual.

7. Kemauan Produksi Garam Masih Terbatas

Berkaitan dengan kecepatan produksi garam, Indonesia sebenarnya bisa saja memproduksi dengan lebih cepat apabila banyak petani yang berpartisipasi di dalamnya. Tapi dengan harga garam yang cukup murah, masyarakat tidak memiliki kemauan tinggi untuk memproduksi garam.

Alhasil, sumber daya manusianya menjadi terbatas dan mempengaruhi kecepatan produksinya dibandingkan negara-negara lainnya.

Jenis dan Kisaran Harga Garam Lokal yang Anjlok

Secara umum, ada beberapa jenis garam lokal yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Jenis-jenis garam inilah yang mengalami penurunan harga dan kalah saing dengan garam impor, yaitu:

1. Garam Laut

Sesuai namanya, garam yang satu ini diproduksi dari hasil penguapan air laut yang mengandung NaCl. Walaupun air laut asin, tapi tidak semua kandungan mineralnya merata karena setiap daerah di Indonesia lautnya memiliki kadar NaCl yang berbeda-beda.

Untuk garam laut yang mengandung mineral tinggi, biasanya memiliki warna yang lebih gelap dengan rasanya yang tidak terlalu asin. Demikian juga sebaliknya.

2. Garam Meja

Jenis garam meja inilah yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia dan luar negeri. Garam ini memiliki tekstur yang lebih halus dengan rasa asin yang terbilang pas. Saat ini hampir semua masyarakat menggunakan garam meja untuk kebutuhan memasak.

Selain penggunaannya lebih praktis, garam meja juga mengandung yodium yang dikenal baik untuk tubuh dan kesehatan. Tidak heran jika garam meja juga lebih sering dikenal dengan sebutan garam beryodium.

3. Garam Krosok

Garam krosok umumnya digunakan oleh masyarakat generasi lama untuk memasak. Selain rasanya yang lebih asin, teksturnya juga lebih kasar dan besar sehingga bisa membantu proses menghaluskan rempah secara manual.

Meski umum digunakan generasi lama, tapi garam ini masih banyak dipakai saat ini untuk kebutuhan pengawetan makanan seperti ikan dan sejenisnya. Jenis garam krosok juga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pengobatan karena berbagai kelebihan lain yang ada di dalamnya.

Untuk mengetahui kisaran harga garam produksi lokal sesuai jenisnya, berikut tabel harga yang bisa dijadikan bahan perbandingan dengan harga garam impor.

Jenis Garam Netto Kisaran Harga
Garam Krosok 1 kg Rp6.000,00 – Rp7.000,00
Garam Yodium 250 gram Rp1.500,00 – Rp2.000,00
Garam Laut 100 gram Rp23.500,00 – Rp24.500,00

Kisaran harga garam di atas berbeda-beda tergantung produsen dan supplier yang menjualnya. Apabila membeli langsung pada produsen, tentu saja harganya jauh lebih murah dengan kuantitas pemesanan lebih banyak.

Anjloknya harga garam lokal di pasaran tentu sangat merugikan petani garam Indonesia dan mengakibatkan produksinya semakin rendah. Untuk mengantisipasi kondisi ini, Anda bisa mendukung dengan membeli garam lokal meski kualitasnya masih kalah saing dengan garam impor.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan FREE Sample untuk pembelian pertama. Hubungi kami disini

X