
Dalam pengadaan bahan baku industri, kualitas garam tidak sebaiknya dinilai hanya berdasarkan warna putih atau tampilan fisik. Parameter seperti kadar NaCl, kadar air, kalsium, magnesium, material tidak larut, ukuran partikel, status penambahan yodium, serta konsistensi antar-batch dapat memengaruhi performa produk pada proses produksi.
Selain evaluasi produk, dokumentasi seperti Certificate of Analysis (COA), product specification, informasi batch, Halal, dan SNI sesuai kategori produk dapat menjadi bagian dari proses kualifikasi pemasok.
Fasilitas produksi PT Artha Garam Indonesia berada di Cirebon, Jawa Barat dan menggunakan bahan baku garam lokal yang kemudian diproses sesuai jenis produk dan kebutuhan pelanggan.
Prinsip Quality Control Garam Industri
Quality control pada garam industri bertujuan memastikan bahwa karakteristik produk dapat dibandingkan dengan persyaratan teknis yang telah ditentukan.
Parameter yang relevan dapat berbeda antara satu aplikasi dengan aplikasi lainnya. Garam untuk industri makanan, feedmill, water treatment, sabun dan deterjen, maupun industri kimia dapat mempunyai persyaratan yang berbeda.
Karena itu, PT Artha Garam Indonesia mendorong pelanggan untuk mengevaluasi produk berdasarkan spesifikasi yang relevan dengan proses aktual, bukan hanya berdasarkan nama dagang atau penampilan produk.
Sertifikasi Halal

Sertifikasi Halal merupakan salah satu dokumen yang dapat menjadi bagian dari proses evaluasi pelanggan, terutama untuk perusahaan yang mempunyai persyaratan Halal dalam rantai pasoknya.
Status dan ruang lingkup sertifikasi harus tetap diperiksa berdasarkan produk dan dokumen yang berlaku pada saat evaluasi.
Referensi eksternal: LPPOM.
SNI Sesuai Kategori Produk

SNI 3556:2016 berlaku untuk kategori garam konsumsi beryodium. Karena itu, keberadaan sertifikasi tersebut tidak berarti seluruh produk garam industri, garam non-yodium, atau seluruh spesifikasi yang diproduksi otomatis termasuk dalam ruang lingkup SNI yang sama.
Pelanggan yang membutuhkan produk dengan persyaratan SNI sebaiknya menginformasikan kategori penggunaan dan spesifikasi yang dibutuhkan agar dokumen yang relevan dapat dikonfirmasi.
Referensi eksternal: Daftar Klien BBSPJPPI Kementerian Perindustrian.
Certificate of Analysis (COA) dan Product Specification
COA dan product specification mempunyai fungsi yang berbeda.
Product specification menunjukkan target, batas minimum, batas maksimum, atau rentang karakteristik yang ditetapkan untuk suatu produk.
Certificate of Analysis atau COA menunjukkan hasil pengujian suatu batch berdasarkan parameter yang diperiksa.
Karena itu, purchasing dan quality control sebaiknya tidak hanya meminta angka spesifikasi umum. Untuk kebutuhan tertentu, hasil aktual batch dapat menjadi informasi yang lebih relevan dalam proses penerimaan bahan baku.
Identifikasi Batch dan Traceability
Identifikasi batch membantu perusahaan menghubungkan produk yang diterima dengan proses produksi, hasil pengujian, dan dokumen yang relevan.
Traceability penting terutama apabila terjadi evaluasi kualitas, keluhan, kebutuhan investigasi, atau perbandingan antar-pengiriman.
Dalam proses B2B, informasi batch dapat digunakan bersama COA dan dokumen produk untuk membantu proses penerimaan serta evaluasi bahan baku.
Parameter Quality Control yang Dapat Dievaluasi
Kadar NaCl
Kadar NaCl merupakan salah satu parameter utama dalam evaluasi garam.
Namun, angka NaCl harus dibandingkan menggunakan basis dan metode yang konsisten. Purchasing perlu memperhatikan apakah angka tersebut merupakan minimum specification, typical value, hasil pengujian batch, wet basis, atau dry basis.
Kadar Air
Kadar air dapat memengaruhi flowability, kecenderungan menggumpal, penyimpanan, handling, serta jumlah NaCl aktual dalam setiap kilogram produk.
Pada proses tertentu, kadar air juga dapat memengaruhi feeding, pencampuran, dan stabilitas penyimpanan.
Kalsium dan Magnesium
Kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) merupakan impurity yang dapat menjadi perhatian pada aplikasi yang sensitif terhadap pembentukan endapan, kerak, kekeruhan, resin, atau perubahan karakter formulasi.
Batas yang dapat diterima harus disesuaikan dengan kebutuhan proses pelanggan.
Material Tidak Larut
Material tidak larut dapat menjadi perhatian apabila garam akan dibuat menjadi larutan atau brine.
Residu yang tidak larut dapat memengaruhi filter, pump, nozzle, resin, heat exchanger, tangki, atau sistem perpipaan tergantung desain proses pelanggan.
Ukuran dan Distribusi Partikel
Ukuran partikel tidak hanya memengaruhi tampilan produk. Ukuran dapat memengaruhi kecepatan pelarutan, flowability, mixing, feeding, dosing, serta pembentukan debu.
Untuk aplikasi yang sensitif terhadap ukuran, parameter mesh atau distribusi hasil ayakan memberikan informasi yang lebih jelas dibanding istilah umum seperti “halus” atau “kasar”.
Status Penambahan Yodium
Beberapa proses membutuhkan produk dengan penambahan yodium, sedangkan proses lain membutuhkan produk tanpa penambahan KIO3.
Status tersebut perlu dikonfirmasi sebelum pemesanan agar produk dan dokumentasi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Pemeriksaan Ukuran Partikel dengan Sieve Analysis
Sieve analysis atau pengujian ayakan dapat digunakan untuk mengevaluasi distribusi ukuran partikel.
Sampel ditempatkan pada susunan sieve dengan ukuran tertentu, kemudian dilakukan proses pengayakan sehingga persentase material yang tertahan atau lolos pada setiap ukuran dapat dievaluasi.
Metode ini memberikan informasi yang lebih objektif dibanding hanya melihat ukuran kristal secara visual.
Bagi pelanggan dengan sistem feeding, mixing, dissolving, atau dosing tertentu, distribusi ukuran dapat menjadi salah satu parameter penting dalam evaluasi produk.
Pemeriksaan Visual dan Material Asing
Pemeriksaan visual tetap mempunyai fungsi dalam quality control, meskipun tidak dapat menggantikan pengujian parameter kimia.
Evaluasi visual dapat membantu mengidentifikasi perubahan warna, material asing, kontaminan fisik, kondisi kemasan, atau karakter produk yang berbeda dari kondisi normal.
PT Artha Garam Indonesia terus mengembangkan sistem produksi dan pemeriksaan untuk membantu mengurangi material asing dan menjaga konsistensi produk.
Incoming Raw Material dan Bahan Baku Lokal
PT Artha Garam Indonesia menggunakan bahan baku garam lokal Indonesia.
Karakteristik bahan baku dapat berbeda antar-sumber dan antar-periode. Karena itu, evaluasi bahan baku merupakan bagian penting dalam menjaga konsistensi produk setelah proses pengolahan.
Penggunaan bahan baku lokal juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung rantai pasok domestik sekaligus meningkatkan kualitas melalui proses pengolahan dan quality control.
Sampel dan Trial Sebelum Pembelian Rutin
Dokumen dan hasil laboratorium merupakan bagian penting dalam evaluasi bahan baku, tetapi performa aktual tetap dapat dipengaruhi oleh proses produksi pelanggan.
Karena itu, untuk kebutuhan B2B kami mendorong evaluasi sampel dan trial sebelum pembelian rutin dalam volume besar.
Trial dapat digunakan untuk mengevaluasi pelarutan, residu, flowability, pencampuran, feeding, kompatibilitas terhadap formulasi, serta dampak pada proses atau produk akhir.
Setelah produk dinyatakan sesuai, spesifikasi yang disepakati dapat menjadi referensi dalam pengadaan berikutnya.
Quality Control Berdasarkan Aplikasi
Tidak semua pelanggan membutuhkan parameter yang sama.
Untuk industri makanan dan bumbu, evaluasi dapat melibatkan spesifikasi kimia, kebersihan, status yodium, dokumen produk, dan persyaratan food-related yang berlaku.
Untuk water treatment, parameter seperti material tidak larut, Ca, Mg, kelarutan, dan ukuran kristal dapat menjadi perhatian karena berkaitan dengan brine tank, resin, dan sistem perpipaan.
Untuk feedmill, ukuran partikel, flowability, NaCl, kadar air, status yodium, dan konsistensi produk dapat menjadi bagian dari evaluasi.
Untuk industri kimia, pelanggan dapat mempunyai batas khusus terhadap impurity, kadar air, ukuran partikel, atau parameter lain yang berkaitan langsung dengan prosesnya.
Dokumen yang Dapat Dibahas dengan Pelanggan
Sesuai jenis produk dan kebutuhan evaluasi pelanggan, dokumen yang dapat dibahas antara lain:
- Certificate of Analysis (COA)
- Product specification
- SDS atau MSDS sesuai produk
- Informasi batch
- Dokumen Halal sesuai ruang lingkup produk
- Dokumen SNI sesuai kategori produk
- Dokumen pendukung lain sesuai kebutuhan pelanggan
Pengembangan Sistem Quality dan Food Safety
PT Artha Garam Indonesia terus mengembangkan fasilitas produksi dan sistem quality control untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan pelanggan industri.
ISO 22000 dan HACCP masih merupakan bagian dari rencana pengembangan sistem perusahaan dan belum boleh dianggap sebagai sertifikasi yang telah dimiliki sampai proses sertifikasi resmi selesai.
Pendekatan ini penting agar informasi yang diberikan kepada pelanggan tetap sesuai dengan status sertifikasi yang benar dan dapat diverifikasi.
Hubungan Quality Control dengan Pemilihan Supplier
Pemilihan supplier garam industri sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga per kilogram.
Purchasing juga perlu mempertimbangkan apakah supplier mampu memberikan spesifikasi yang jelas, konsistensi antar-batch, dokumen yang relevan, sampel, respons terhadap keluhan, serta kemampuan mempertahankan kualitas dalam pembelian rutin.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pengadaan, lihat halaman supplier garam industri untuk kebutuhan pabrik.
Informasi Produk dan Aplikasi
Untuk informasi berdasarkan aplikasi, kunjungi:
Garam untuk industri makanan dan minuman
Garam untuk feedmill dan pakan ternak
Garam untuk water treatment dan pengolahan air
Evaluasi Produk PT Artha Garam Indonesia
Perusahaan yang sedang melakukan vendor qualification atau evaluasi bahan baku dapat menghubungi PT Artha Garam Indonesia untuk mendiskusikan spesifikasi, dokumen, sampel, dan kebutuhan trial.
Agar evaluasi lebih efektif, informasikan aplikasi penggunaan, target spesifikasi, kebutuhan ukuran partikel, status yodium, volume penggunaan, serta parameter yang menjadi perhatian pada proses produksi Anda.
WhatsApp: +62 813-8870-0580
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah PT Artha Garam Indonesia memiliki sertifikasi Halal?
PT Artha Garam Indonesia tercatat dalam LPPOM MUI Halal Directory untuk kategori Salt atau Garam. Ruang lingkup dan status dokumen yang berlaku perlu dikonfirmasi berdasarkan produk yang dievaluasi.
Apakah semua produk PT Artha Garam Indonesia memiliki SNI?
Tidak. PT Artha Garam Indonesia tercatat untuk SNI 3556:2016 yang berlaku pada kategori garam konsumsi beryodium. Produk industri atau non-yodium perlu dievaluasi berdasarkan kategori, spesifikasi, dan dokumen masing-masing.
Apa perbedaan COA dan product specification?
Product specification menunjukkan target atau batas karakteristik produk, sedangkan COA menunjukkan hasil pengujian terhadap suatu batch berdasarkan parameter yang diperiksa.
Apakah pelanggan dapat meminta sampel sebelum pembelian rutin?
Ya. Sampel dapat digunakan untuk mengevaluasi spesifikasi dan performa produk sebelum pembelian rutin, sesuai produk, aplikasi, lokasi, dan prosedur evaluasi pelanggan.
Parameter apa yang dapat diperiksa pada garam industri?
Parameter dapat meliputi kadar NaCl, kadar air, kalsium, magnesium, material tidak larut, ukuran partikel, status yodium, kondisi visual, serta parameter lain sesuai kebutuhan proses.
Apakah PT Artha Garam Indonesia sudah memiliki ISO 22000 atau HACCP?
Belum. ISO 22000 dan HACCP merupakan bagian dari rencana pengembangan sistem perusahaan. Status tersebut tidak boleh dianggap sebagai sertifikasi yang telah diperoleh sebelum proses sertifikasi resmi selesai.

Kadar NaCl